BacaSelengkapnya...
Thursday, 5 September 2019
Tuesday, 15 March 2011
20 TIPS HIDUP BAHAGIA DAN SUKSES
20 TIPS HIDUP BAHAGIA DAN SUKSES
1. Bersyukur Apabila Mendapat Nikmat
Allah SWT pasti akan menambah nikmat pada kita andai kita pandai bersyukur. Dan ingat satu hal, Allah maha pemberi rezeki. Ketika kita banyak mengucap syukur, insyaAllah rezeki akan semakin terbuka dari berbagai arah, karena Allah maha kaya dan maha pemberi nikmat.
2. Tawakkal Apabila Mempunyai Rencana atau Program
Tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang bisa instant terjadi, ketika kita punya suatu rencana, istiqomah wajib jadi pegangan kita. Suatu pekerjaan yang istiqomah dilakukan, suatu saat kelak pasti akan membuahkan hasil. Dan Allah maha tahu yang terbaik kapan program kita akan dapat berjalan sesuai dengan rencana kita.
Gagal bukan berarti segala-galanya, tapi awal menuju sukses, ketika gagal mendera, jangan terpuruk, namun segeralah bangkit untuk mencari jalan terbaik/yang lebih baik dari sebelumnya. Allah maha menatap segala iktiar kita dan tahu apa yang terbaik untuk kita.
4. Jangan Putus Asa dalam Menghadapi Kesulitan.
Dalam Al-qur’an jelas tertera, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Jadi apa yang perlu kita takutkan ?, janji Allah SWT sudah pasti. Yakinlah jalan indah akan terbuka lebar setelah kita melewati masa-masa penuh ujian.
5. Jangan Sombong Kalau Sudah memperoleh Kesuksesan.
Ingat, Allah bisa sewaktu-waktu mencabut semua nikmat yang Allah berikan, termasuk sukses yang sedang kita rasakan andai kita lupa pada sang pemberi nikmat. Sukses yang kita raih bukan karena kehebatan kita, tapi karena kemurahan Allah SWT.
6. Jangan Terlalu Ambisius Akan Suatu Kedudukan.
Ambisi yang berlebihan hanya membuat batin kita menjadi lelah. Apalagi kalau sudah berfikir akan menghalalkan berbagai macam cara untuk meraihnya. Lakukan segalanya dengan cara yang baik dan lurus.
7. Jangan Campuri Harta Kita dengan Harta Haram.
Harta haram tidak akan membuat hidup kita bahagia karena jauh dari Ridha Allah SWT. Lebih baik sedikit tapio berkah daripada banyak tapi tidak barokah.
8. Jangan Biasakan Melakukan Dosa-dosa Kecil.
Jika kita terbiasa dengan dosa kecil, dosa besar akan mudah kita lakukan. Jika hidup kita sudah berkubang dosa, ketntraman tidak akan pernah ada. Jadi, pintu sukses akan jauh dari genggaman kita.
9. Jangan Ada Rasa Takut Kecuali hanya pada Allah SWT.
Allah SWT pemilik kehidupan, maha menggenggam segalanya. Hanya pada Allahlah segala rasa takut kita tercurah. Ketika kita akan mengerjakan sesuatu, lakukan dengan sungguh-sungguh dan hanya bersandar pada Allah SWT.
10. Cintailah Seseorang dengan Tidak Berlebihan.
Cinta hakiki dan sejati hanya untuk Allah SWT, karena Allah SWT tidak pernah meninggalkan kita. Manusia bisa berkhianat dan meninggalkan kita sewaktu-waktu. Saat kita mencintai manusia yang berlebih-lebihan, yakinlah suatu saat hanya kecewa yang kita dapatkan.
11. Menikah Kalau Sudah Siap Segalanya.
Menikah insyaAllah akan bisa memberikan ketenangan dalam batin kita. Apalagi rumah tangga kita akan menjadi samara ( sakinah, mawaddah, warahmah ). Untuk yang belum menikah, masukkan agenda menikah sebagai prioritas.
12. Hargai Waktu dan Disiplin.
Dengan mengingat surat Al-ashr insyaAllah kita akan bisa menghargai waktu dengan maksimal. Agar kita tidak menjadi orang yang merugi. Kelak setiap detik waktu yang kita milikin diminta pertanggunjawabannya.
13. Sediakan Waktu untuk Santai dengan Keluarga.
Sesibuk apapun kita, jangan sampai meninggalkan kemesraan dalam keluarga. Karena keluarga adalah bagian dari kehidupan kita. Dengan keluarga yang indah, hidup kita akan tenteram. Jadikan keluarga kita menjadi surga dalam kehidupan kita.
14. jauhkan Diri dari Hutang.
Banyak hutang tidak akan membuat hidup kita tenteram, karena tiap saat kita selalu dikejar-kejar perasaan harus segera menyelesaikan. Jangan biarkan kita terbiasa hutang, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa. Terapkan hidup sederhana sesuai dengan kemampuan kita.
15. Ingat, Dunia Hanya Sementara.
Dengan menghargai/menginggat hal ini, tidak akan ada rasa tamak dalam hidup kita yang membuat batin kita lelah. Sadari bahwa hidup ini hanya sesaat, sehingga kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya.
16. Tahajud, Berdo’a, Istighfar dan Baca Al-Qur’an.
Bangun tengah malam, mengadu pada Allah SWT akan segala permasalahan kita, istighfar dan ditutup dengan membaca Al-qur’an insyaAllah akan membawa hidup kita menjadi lebih tenang dan bahagia. Tak lupa keyakinan pada Allah SWT, bahwa Allah maha mendengar do’a-do’a kita. Tiada lagi yang perlu kita takutkan lagi dalam hidup ini.
17. Maafkan Orang lain.
Walau orang lain sudah berbuat salah pada kita, jangan biarkan hari kita berkeras untuk tidak mau untuk tidak mau memaafkannya. Allah SWT yang maha sempurna saja selalu memaafkan semua kesalahan hamba-hamba-NYA. Kenapa kita makhluk yang lemah harus sombong dengan tak mau memaafkan kesalahan orang lain.
18. Jangan Benci pada orang yang Membenci Kita.
Benci pada orang lain hanya akan membekar hati, membuat hidup kita tidak tenang. Tiada satupun manusia yang sempurna di dunia ini. Andai mereka/ orang-orang disekitar kita punya sikap yang kurang baik, jangan benci mereka.
19. Ringankan Beban Orang Lain.
Berbagi akan membantu hidup kita menjadi lebih berarti. Jangan berpangku tangan. Keluarlah dari dunia yang mengungkung kita selama ini, mulailah berinteraksi dengan sesama untuk berbagi dan saling menolong satu sama lain.
20. Lihat Orang yang Lebih Miskin daripada Kita.
Dengan melihat kebawah, menatap orang-orang yang jauh kurang beruntung hidupnya dibanding kita, akan membuat hati kita senantiasa bersyukur dan bahagia. Tapi, kita hanya melihat orang-orang kaya di sekitar kita. Jika tak bisa mengendalikan diri yang ada hanya iri hati !
Tuesday, 8 March 2011
MEMULIAKAN KEMBALI PEKERJAAN KITA
Ada seorang lelaki tua berusia 60 tahun, bekerja sebagai petugas pengecek engsel pintu pada sebuah hotel di Singapura. Lelaki itu sering disapa dengan Pak Lim. Setiap hari ia memeriksa engsel pintu dengan teliti. Untuk mengecek satu pintu saja Pak Lim berulang kali membuka dan menutup pintu tersebut dengan memastikan engsel masih berfungsi dengan baik. Setiap hari Pak Lim memeriksa sati pintu ke pintu lain. Jika Pak Lim mulai memeriksa pintu pertama di tanggal satu, maka pada akhir bulan ia harus sudah memeriksa pintu kamar terakhir dan esok harinya ia memulai kembali mengecek engsel dari pintu pertama. Begitu ia bekerja setiap hari selama bertahun-tahun.
Pekerjaan itu sesungguhnya tidak ada yang lebih istimewa dari yang lain meskipun secara kasat mata orang-orang menilai sebagian pekerjaan itu adalah rendah, tak layak atau hina. Tetapi bagi yang memuliakan pekerjaannya, maka sesuatau yang tampak rendah bisa menjadi mulia. Begitu pula sebaliknya, pekerjaan yang terlihat mulia bisa menimbulkan antipati bagi orang lain jika orang yang melakukannya tidak bertanggung jawab dan melakukan banyak kecurangan serta kesalahan.
Perlahan namun pasti, bahwa memuliakan pekerjaan harus dikembalikan kepada prinsip-prinsip yang lebih mendasar. Dengan begitu, kemudian kita mengenal bahwa soal pekerjaan dalam Islam tidak semata apakah seseorang punya kesibukan, pekerjaan rutin, lalu mendapat upah. Tapi pekerjaan adalah bagian tak terpisahkan dari urusan keislaman kita juga. Ada 3 prinsip utama yang dipakai Islam terkait dengan pekerjaan, yakni :
1. Prinsip Pembalasan
Maksudnya, bahwa dalam Islam setiap pekerjaan yang dilakukan manusia akan mendapat pembalasan dari Allah SWT di Akherat kelak. Dengan meyakini bahwa setiap pekerjaan akan dibalas oleh Allah di Akherat kelak, maka kita didorong untuk menjadi orang yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang kita lakukan. Allah berfirman : “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (Q.S. An-Najm : 39-41).
2. Prinsip Kemudahan
Maksudnya, bahwa setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan potensi, bakat, kecenderungan dan juga apa yang ia geluti dari waktu ke waktu hingga menjadi sebuah keahlian. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah, “Katakanlah, tiap-tiap orang bekerja menurut keadaannya masing-masing.” (Q.S. Al Isra : 84)
Prinsip ini merupakan landasan untuk melahirkan apa yang disebut dengan kesadaran profesional. Artinya, setiap orang pada dasarnya memiliki bahan atau potensi didalam diri yang membuat dia bisa bekerja dan menekuni profesi atau keahlian tertentu. Kesadaran profesional itulah yang disebut dengan itqan atau ihsan dalam Islam. Artinya seseorang bekerja dengan keahlian yang maksimal, dengan kualitas yang maksimal.
3. Prinsip Kemanfaatan
Maksudnya, bahwa dalam Islam kita didorong untuk memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan sesama. Seperti yang dijelaskan Rasulullah dalam haditsnya, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.” Dalam hal ini, kita merasa berarti atau tidak berarti dipengaruhi oleh apakah kita merasakan bahwa ada manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain dari pekerjaan kita. Ini yang disebut dengan prinsip kemanfaatan malahirkan kesadaran peran.
Apapun jenisnya, setiap pekerjaan punya masa semangatnya, juga punya masa jenuhnya. Setiap pekerjaan punya saat mudahnya, juga punya saat sulitnya. Ya, bekerja tidak sekedar membanting tulang atau menguras keringat. Bagi kita, bekerja adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran agama kita. Kesadaran inilah sebenarnya pilar penting kita dalam memuliakan pekerjaan..
Monday, 7 March 2011
ARTI SEBUAH HARAPAN
ARTI SEBUAH HARAPAN
Alangkah banyaknya pekerjaan yang telah kita kerjakan dari pagi hingga petang, dan kadang berlanjut hingga tengah malam, bahkan ada yang bersambung hingga pagi berikutnya. Akan tetapi, adakah itu semua telah dibarengi dengan sesuatu yang amat penting yang akan menjadikan semua aktivitas kita bermakna? Ia adalah niat, maksud dan tujuan. Ia adalah ruh dari semua amal perbuatan kita. Disitulah letak pandang dan penilaian Allah SWT.
Seseorang yang sedang mengerjakan shalat, berdakwah dan berinfaq mendapatkan nilai maksiat jika semua itu dilakukan tidak disertai niat baik yang tulus dalam mengabdi kepada Allah SWT. Akan tetapi bisa jadi bagi mereka yang hanya berurusan dengan pasar, sawah dan perusahaan akan mendapatkn nilai jihad dan kemuliaan karena ketulusan hatinya dalam merindu ridho Allah SWT di penghujung harapannya.
Marilah kita insyafi makna ini agar aktivitas kita ada nilainya dihadapan Allah SWT. Dan Sebelum kita pergi melaksanakan aktivitas, marilah menghadap kepada Allah SWT dengan air wudhu lalu sholat hajat dua rokaat, kemudian memohon kepada Allah SWT agar mempermudah urusan kita, lalu kita tutup dengan merenungi apa yang ada di hati kita. Sudahkah kita berniat yang baik dan rindu ridho Allah SWT dalam aktivitas ini? Kemudian, senantiasa sertakan makna ini sepanjang kita beraktivitas. Jika kita benar-benar serius dan tulus dalam merenung ini sungguh sepanjang kita beraktivitas akan terjauh dari pelanggaran kepada Allah SWT. Sebab yang menuju Allah SWT akan senantiasa mengambil cara yang di ridhoi Allah SWT agar sampai kepada tujuan. Dan tujuan sebaik apapun jika cara yang kita ambil untuk sampai ke tujuan tidak baik, itu pertanda bahwa niat dan tujuan kita bukanlah yang baik. Dan bagaimanapun juga kita tidak akan sampai kepada tujuan yaitu ridho Allah SWT.
mulai dari diri sendiri
mari kembali kita baca, dengarkan, renungkan dan pahami cerita bagus berikut ini, selamat menikmati ^_^ :
Ketika saya masih muda, dan bebas berimajinasi, saya bermimpi mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah, saya pun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin mengubah negeri saya.
Akan tetapi, lagi-lagi mereka tetap sama, tak ada yang berubah.
Dan sekarang saat saya terbaring sekarat di ranjang kematian, tiba-tiba saya menyadari : "bahwa yang seharusnya pertama kali saya lakukan adalah mengubah diri sendiri".
Kemudian dengan memberikan keteladanan, saya mengubah keluarga saya, dorongan dan nspirasi mereka memungkinkan saya memperbaiki negeri dan siapa tau, saya mungkin bisa mengubah dunia.
(disadur dari Dr. Ibrahim Elfiky)
hmm..., tiba-tiba terngiang lagi di pikiran saya perkataan Henry D.Thoreau yaitu "Tidak ada yang berubah, Kitalah yang berubah" :)
